Strategi Adaptasi Keluarga di Kawasan Tambang Emas

(Studi Kasus : Keluarga Petani dan Nelayan Pertambangan Tumpang Pitu, Banyuwangi)

 

Oleh :

Adilita Pramanti

 

 

Pendahuluan

 

Keluarga merupakan bagian dari ekosistem yang menjadi sandaran vital bagi keberlangsungan kualitas generasi.  Kualitas masyarakat saat ini menjadi cermin bagaimana peran keluarga dalam membangun ekosistem keluarga.[1] Beragam persoalan sosial yang terjadi pada masyarakat, akibat perubahan fungsi dan peran ayah, ibu, anak dan keluarga diluar keluarga inti memposisikan mereka menjadi korban dan sekaligus pelaku yang diakibatkan karena mereka berusaha bertahan dalam suatu perubahan ekologis yang tidak dikehendaki dalam sebuah sistem sosial masyarakat. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting karena kehidupan sosial pertama dari sebuah masyarakat berawal dari keluarga. Semua masyarakat menghabiskan waktuya didalam keluarga.[2] Seperti yang dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa “Tiap-tiap rumah adalah perguruan, tiap-tiap orang jadi pengajar…”, hal itu menjelaskan betapa pentingnya peran keluarga dalam melahirkan generasi unggul.Hal ini kemudian menjadi dasar penulis untuk melihat tentang bagaiman ketahanan dan strategi yang dilakukan oleh sebuah keluarga yang senantiasa diharapkan menjadi rumah belajar bagi setiap anggota keluarga dengan adanya masalah ekologis yang diakibatkan oleh kepentingan ekonomi global yang memaksa mereka untuk beradaptasi dengan cepat sehingga merubah peran dan fungsi tiap anggota keluarga tersebut.

Tulisan ini ingin menguraikan tentang problem keluarga di pedesaan yang terjadi karena adanya kerusakan ekologis akibat aktifitas pertambangan emas yang mana persoalan-persoalan eksploitasi pertambangan di Indonesia lebih banyak dibahas melalui penelitian-penelitian eksklusi masyarakat, degradasi lingkungan, hukum dan peraturan yang disorientasi dalam pemaknaan kesejahteraan dan kemiskinan struktural. Berdasarkan data hasil penelitian, maka penulis ingin menguraikan perubahan sosial yang relatif cepat dapat mengakibatkan disorganisasi dalam masyarakat karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian yang bisa jadi menimbulkan kegoncangan dalam struktur masyarakat. Apakah setiap anggota keluarga memiliki pilihan ketika lahan yang menghidupi mereka kemudian beralih fungsi menjadi kawasan tambang? Bagaimana strategi mereka dalam mengatasi perubahan sosial, ekonomi dan budaya akibat adanya aktifitas tambang? Lalu apa saja persoalan internal didalam keluarga yang diakibatkan karena lingkungan mereka tidak lagi bisa menjadi support system untuk mereka berkehidupan sosial?

Uraian tujuan dan lingkup penulisan diatas menjadi dasar penulis untuk memaparkan bagiaman relasi antar antara keluarga dengan perubahan lingkungannya kemudian hambatan-hambatan apa yang terjadi, dan bagaimana langkah adaptasi yang terbentuk karena desakan sosial dan lingkungan pada masyarakat di kawasan tambang emas Tumpang Pitu,Abnyuwangi, Jawa Timur. Sebagaimana asusmsi yang dijelaskan oleh Klain dan White (1999) bahwa manusia tergantung pada lingkungan untuk dapat memenuhi kebutuhan biologisnya seperti makan dan kebutuhan primer lainnya.[3] Kesejahteraan menjadi ukuran pemenuhan kebutuhan ekonomi dalam keluarga. Ketika sebuah keluarga terganggu kondisi ekonominya maka pengaruh yang terbesar pada keluarga adalah perubahan kualitas hidup dengan meminimalisir sumber-sumber pangan dan pendidikan yang menjadi tolak ukur dalam kesejahteraan di Indonesia.

 

Dinamika Pertambangan dan Adaptasi  Keluarga Perubahan Sosial Ekonomi

 

Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam, salah satunya hasil tambang (batubara, minyak bumi, gas alam, timah). Di era globalisasi ini, setiap negara membangun perekonomiannya melalui kegiatan industri dengan mengolah sumber daya alam yang ada di negaranya.[4] Hal ini dilakukan agar dapat bersaing dengan negara lain dan memajukan perekonomiannya. Oleh karena itu, banyak perusahaan dari sektor privat maupun sektor swasta yang mengolah hasil tambang untuk diproduksi. Munculnya industri-industri pertambangan di Indonesia sekalipun bertujuan positif untuk kesejahteraan namun jugamempunyai dampak positif dan dampak negatif bagi masyarakat dan negara[5]. Dampak positif adanya industri pertambangan antara lain menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, hasil produksi tambang dapat digunakan untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun pasar internasional, sehingga hasil ekspor tambang tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi negara. Dengan tujuan yang telah dipaparkan tersbut, maka timbul pertanyaan dimana peran pemerintah saat masalah keluarga di kawasan pertambangan muncul? Persolaan perbaikan kesejahteraan masyarakat petani dan nelayan  menjadi fokus utama dengan melegalkan pertambangan emas di Tumpang Pitu, Jawa Timur.[6] Bagaiamana praktek-praktek industri pertambangan kemudian menghancurkan budaya masyaratak petani dan nelayan di Tumpang Pitu sebagai kawasan tambang emas. Dalam Adi (2017) disebutkan bahwa perempuan atau kaum ibu-ibu di Tumpang Pitu kemudian memilih untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita atau buruh jasa rumah tangga di Surabaya atau bahkan ke Jakarta. Hal ini terus meningkat hingga pertengahan tahun 2017 secara cepat dan massif yang dalam Blood (1972) disebutkan bahwa disorganisasi sosial terjadi dalam keluarga karena secara cepat merubah kultur subsisten pedesaan kearah masyarakat industri.[7] Pola tradisional di pedesaan seperti ayah bekerja sebagai petani dan ibu membantu dengan mengasuh anak-anak dirumah kini memaksa keluarga di pedesaan, khuusunya di wilayah tambang kemudian membentuk pola moderenisasi sebagai bentuk perubahan sosial yang terjadi di kawasan Tampang Tumpang Pitu pada khususnya dan di wilayah pedesaan pada umumnya.

 

Perubahan sosial , Keterampasan Kesejahteraan Keluarga akibat aktifitas pertambangan

 

Riwayat pertambangan di Indonesia telah melalui perjalanan yang panjang dan secara mengubah struktur sosial masyarakat. Pengetahuan masyarakat, konsekuensi sosial dan ketimpangan sosial yang diakibatkan pada setiap aktivitas pertambangan harus dibayar mahal oleh setiap orang. Resiko pertambangan selama ini hanya dilihat pada aspek lingkungan dan sosial secara umum namun dalam perjalanan penelitian ini, pemiskinan masyarakat menjadi kunci cedera ekonomi yang dialami oleh masyarakat yang hidup di sekitar wilayah tambang. Tumpang Pitu, Banyuwangi merupakan representasi dinamika pertambangan di Jawa.[8]

Sejarah pertambangan emas di tumpang pitu, berkaitan dengan rencana tambang di kabupaten jember jawa timur yang dilakukan oleh PT Hakman Metalindo tahun 1995-1996. PT Hakman Metalindo memiliki anak perusahaan pertama, PT Hakman Emas Metalindo SELUAS 5.386 hektar. Kedua, hakman platina metalindo dengan 25.930 hektar dan hakman metalindo 25.120 hektar.[9]  Dengan kehadiran PT hakman group membuat banyuwangi dan kota disekitarnya memanas seperti jember dan daerah tapal kuda dengan isu pertambangan emas. 1998 isu sempat terhenti dnegan adanya tragedi pembersihan dukun santet di banyuwangi yang menyebar di daerah bondowoso, situbondo dan jember yang sempat menelan korban jiwa  lebih dari 200 orang. Propaganda yang dilakukan oleh pemerintah orde baru untuk meredam adanya isu isu yang terus berkembang dari masyarakat dengan adanya pertambangan emas didaerah Banyuwangi. Dengan semangat Orde Baru yang mengutamakan pembangunan tetapi bersifat patriarki menjadikan manusia alam tidak lagi menjadi patrner dalam kelangsungan hidup dimasa depan tetapi menjadikan alam sebagai objek patriarki yang sangat eksploitatif. Jika melihat kultur budaya pada masyarakat Jawa yang memandang alam sebagai sebagian dari mereka yang mereka anggap sebagai ibu dalam falsafah jawa “ ibu bumi” yang alam sebagai penampung dalam segala kesalahan manusia yaitu pembangunan yang tidak melihat dampak jangka panjang. Pertambangan yang bersifat ekploitasi yang dalam kalangan aktivis feminism sangat patriarki  eksploitasi tambang yang bersifat partriarki memandang bahwa ibu alam sebagai binatang buas yang harus di taklukan, tetapi profit yang dihasilkan proses ekploitasi tersebut tidak sebanding dengan kerugian yang ditanggung dalam keberlanjutan hidup. Seperti kerusakan alam dimasa depan harus ditanggung oleh masyrakat miskin yang mereka bergantung pada alam seperti petani dan nelayan. Kunci dari proses ekploitasi tersebut adalah kapitalisme yang tidak mengenal puas untuk mencari keuntungan.[10] Dampak dari eksploitasi tersebut adalah keluarga petani dan nelayan memilih berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk melakukan demostrasi dan aksi lainnya (Gambar dibawah) sehingga relasi keluarga disharmoni

 

Perubahan sosial secara cepat mengakibatkan rasa keterampasan bagi setiap orang tua di kawasan tambang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang semula bergantung ke lahan pertanian dan perikanan lalu beralih menjadi buruh di kawasan tambang. Dalam tulisan ini penulis ingin menyampaikan  secara substansial yang dialami oleh masyarakat tumpang pitu. Perampasan baik secara kultur maupun secara moral menyebabkan hilangnya hubungan interaksi yang sudah dimilki oleh masyarakat baik didalam keluarga sendiri ataupun dalam relasinya dengan lingkungan dikawasan tambang. Tetapi pemingiran yang dilakukan oleh kapitalis tidak diimbangi oleh kemampuan keluarga untuk mewujudkan kembali yang telah  dimiliki. Karenanya, masyarakat sekitar tambang Banyuwangi mengalami keterampasan. Perasaan keterampasan yang dialami oleh masyarakat sekitar tambang emas tumpang pitu disebut dengan deprivasi relatif  yang meruapakan persepsi atas penyimpangan antara nilai harapan (value expectation) dengan nilai kapasitas (value capabilitas) untuk meraih nilai yang diperlukan. [11] Relatif deprivasi sebagai hasil dari proses perubahan harapan dan kemampuan untuk memenuhi harapan para anggota keluarga petani dan nelayan di kawasan Tambang Tumpang Pitu.

Persoalan Keluarga di Kawasan Tambang Tumpang Pitu, Banyuwangi

 

Dengan adanya aktifitas tambang menyabbakn berkurangnya pendapatan perempuan sehingga menyebabkan beralihnya pekerjaan mereka menjadi TKI seperti yang dilakukan oleh survey pertanian yang dilakukan oleh BPS (2013) bahwa rumah tangga petani di pesangrahan turun sebanyak 1,999 hektar selama sepuluh tahun terakhir. Dengan menjadi TKW maka perempuan secara otomatis menjadi tulang punggung keluarga karena dengan kerusakan lingkungan menyebabkan pekerjaan disektor pertanian tak mampu lagi diandalkan dan bisa kita lihat bersama bahwa begitu buruknya indonesia memberikan perlindungan terhadap TKI. bergesernya pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan di daerah sekitar tambang luput dari program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh PT BSI sebagai pihak yang paling bertangung jawab atas masalah yang ditimbulkan dari kerusakan yang diakibatkan tambang. Bergersernya yang dilakukan oleh perempuan tumpang pitu yang dahulunya sebagai petani bukan tanpa sebab karena adanya pilihan rasional yang sebelumnya adanya kerusakan lingkungan mereka mampu hidup disektor pertanian sekarang sektor pertanian tidak mampu menghidupi dan bergeser menjadi TKW. Perempuan di kawasan tambang tumpang pitu berfikir pilihan lain yang mampu dikerjakan selain sektor pertanian yang sudah tidak mampu diharapkan lagi.[12] Konsekuensi dari ekonomi pasar global melalui pertambangan  mampu merubah ekonomi tradisional dari berbasis sector ekonomi primer ekstratif dan sektor ekonomi sekunder manufaktur menjadi berbasis pasar global membawa konsekuensi perubahan pola pekerjaan menuju pada peluang ekonomi jasa yang lebih mudah dimasuki perempuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Berpikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinjauan Pustaka

 

Penulis mengawali bab tinjauan pustaka ini dalam kerangka ekologi yang mana sebuah keluarga melakukan adaptasi terhadap perubahan sosial dan ekonomi dengan membentuk suatu penyusunan kembali peran dan tanggung jawab keluarga.[13] Dissorganisasi sosial terjadi dalam keluarga karena secara cepat merubah kultur subsisten pedesaan kearah masyarakat industri.[14] Pola tradisional di pedesaan seperti ayah bekerja sebagai petani dan ibu membantu dengan mengasuh anak-anak dirumah kini memaksa keluarga di pedesaan, khuusunya di wilayah tambang kemudian membentuk pola moderenisasi sebagai bentuk perubahan sosial yang terjadi di kawasan Tampang Tumpang Pitu pada khususnya dan di wilayah pedesaan pada umumnya.

Keluarga adalah Kualitas masyarakat saat ini menjadi cermin bagaimana peran keluarga dalam membangun ekosistem keluarga.[15] Beragam persoalan sosial yang terjadi pada masyarakat, akibat perubahan fungsi dan peran ayah, ibu, anak dan keluarga diluar keluarga inti memposisikan mereka menjadi korban dan sekaligus pelaku yang diakibatkan karena mereka berusaha bertahan dalam suatu perubahan ekologis yang tidak dikehendaki dalam sebuah sistem sosial masyarakat. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting karena kehidupan sosial pertama dari sebuah masyarakat berawal dari keluarga. Semua masyarakat menghabiskan waktuya didalam keluarga.[16]

Perubahan sosial secara cepat mengakibatkan rasa keterampasan bagi setiap orang tua di kawasan tambang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang semula bergantung ke lahan pertanian dan perikanan lalu beralih menjadi buruh di kawasan tambang. Dalam Blood (1972)

Perampasan secara substansial yang dialami oleh masyarakat tumpang pitu. Perampasan baik secara kultur maupun secara moral menyebabkan hilangnya hubungan interaksi yang sudah dimilki oleh masyarakat dikawsan tambang. Tetapi pemingiran yang dilakukan oleh kapitalis tidak diimbangi oleh kekammpuan masyrakat untuk mewujudkan kembali yang sduah dimilki oleh masyarakat oleh sebab karena itu maka masyarakat sekitar tambang banyuwangi mengalami keterampasan. Perasaan keterampasan tyang dialami oleh masyarkat sekatar tambang emas tumpang pitu disebut dengan deprivasi relatif  meruapakan persepsi atas penyimpangan antara nilai harapan (value expectation) dengan nilai kapasitas (value capabilitas) untuk meraih nilai yang diperlukan (Gurr dalam Angga. 2017). Relatif deprivasi sebagai hasil dari proses perubahan harapan dan kemampuan untuk memenuhi harapan. Deprivasi di bedakan menjadi 3 bagian: 1. Decremental deprivation 2. Aspirational deprivation dan 3. Progresive deprivation. (Gurr, 1970).[17]

Jika melihat dilema yang dihadapi oleh masyarakat sekitar tambang tumpang pitu banyuwangi selain masyarakat mengalami perampasan terhadap nilai – nilai yang sudah melekat di dalam sistem masyarakat Banyuwangi. Peminggiran (eksklusi) bukan merupakan proses yang terjadi begitu saja tanpa adanya campur tangan relasi kekuasaan. Relasi kekuasaan memaksa masyarakat menjadi tuna akses pada sumber daya, baik sumberdaya tanah maupun sumberdaya lain yang dimiliki. Proses eksklusi  tercipta dari sebuah interaksi  kekerasan yaitu: regulation (kebijakan), force (kekuatan), market (pasar), dan legitimation (legitimasi). Regulasi merupakan aturan legal negara atau instrumen legal negara yang menetapkan pengaturan terhadap sebuah akses terhadap sumberdaya dan kondisi pengunaannya. Seperti dengan menggunakan Perpu atau Perda yang mengatur akses – akses masyarakat terhadap sumberdaya yang dimilikinya.  Kekuatan merupakan ancaman yang dilakukan baik dari negara maupun aktor negara atau perusahaan yang bertujuan untuk menguasai akses sumberdaya yang dimiliki masyarakat. Pasar merupakan bentuk peminggiran dalam bentuk harga dan pengusaan tanah yang semakin terindividualisasi. Legitimasi merupakan penentu dasar moral membuat regulasi pasar, dan kekuatan sehingga menjadi basis pemiskinan secara politik dan sosial mampu diterima.[18]

Persoalan perbaikan kesejahteraan masyarakat petani dan nelayan  menjadi fokus utama dengan melegalkan pertambangan emas di Tumpang Pitu, Jawa Timur.[19] Bagaiamana praktek-praktek industri pertambangan kemudian menghancurkan budaya masyaratak petani dan nelayan di Tumpang Pitu sebagai kawasan tambang emas. Dalam Adi (2017) disebutkan bahwa perempuan atau kaum ibu-ibu di Tumpang Pitu kemudian memilih untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita atau buruh jasa rumah tangga di Surabaya atau bahkan ke Jakarta. Hal ini terus meningkat hingga pertengahan tahun 2017 secara cepat dan massif yang dalam Blood (1996) disebutkan bahwa disorganisasi sosial terjadi dalam keluarga karena secara cepat merubah kultur subsisten pedesaan kearah masyarakat industri.[20] Pola tradisional di pedesaan seperti ayah bekerja sebagai petani dan ibu membantu dengan mengasuh anak-anak dirumah kini memaksa keluarga di pedesaan, khuusunya di wilayah tambang kemudian membentuk pola moderenisasi sebagai bentuk perubahan sosial yang terjadi di kawasan Tampang Tumpang Pitu pada khususnya dan di wilayah pedesaan pada umumnya.

Hasil dan Pembahasan

 

Berikut adalah hasil yang didapatkan dari tulisan ini yang merupakan korelasi antara perubahan sosial yang menghasilkan akibat pada pilihan-pilihan strategis keluarga di kawasan pertambangan akibat adanya kerusakan ekologis dan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung kepada relasi atau hubungan didalam keluarga. Adapun penjelasannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 

 

 

 

 

Tabel Perubahan Sosial,Pilihan Strategi dan Relasi Sosial

Adaptasi Keluarga di Kawasan Tambang Tumpang Pitu, Banyuwangi

 

Anggota Keluarga Perubahan sosial Pilihan Adaptasi Strategis Relasi Sosial
Nuclear Family  

 

 

 

 
Ayah- Ibu

 

Hilangnya peran atau figure pelindung dalam keluarga karena sebagian waktu habis diwilayah pertambangan dan aksi demonstrasi

Bekerja sekaligus mengurus anak dan anggota keluarga lainnya, berbelanja dan membersihkan rumah

Hilangnya fungsi reproduksi karena cinta kasih namun karena pelampiasan dari tekanan sosial ekonomi mempengaruhi relasi istri-suami.Fungsi ekonomi bukan untuk kebahagiaan keluarga tapi lebih kepada pemenuhan ekonomi karena tekanan ekologis.

Ibu menjadi TKW  dan buruh jasa PRT di kota atau luar negeri, sedangkan Ayah menjadi buruh tambang yang jarang dirumah dan tidak bisa mengatur waktu untuk memenuhi kepuasan batinanak dan istri.  Ketegangan dalam rumah tangga berupa konflik bertahap, jarak dan waktu yang diluangkan dalam keluarga tradisional yang semula erat menjadi renggang. Potensi perceraian, perselingkuhan, menyukai sesame jenis dan hilangnya rasa kepercayaan satu sama lain menjadi kuat.

Ketegangan dan konflik ayah atau ibu kepada anak karena anak kemudian memilih jalan praktis untuk membantu perekonomian keluarga dengan jalan yang mudah sehingga anak merasa superior dalam keluarga dan merasa memiliki hak untuk menentukan jalan dan tindakan sosialnya sendiri.

Anak Usia Sekolah Sebagai penerus keturunan  dan orang yang ditanamkan nilai dan budaya menjadi berubah karena karakter yang dibentuk tidak dari pendidikan dalam keluarga, anak hanya mendapatkan pelajaran disekolah dan menanggung konsekuensi sosial atas usaha ekonomi ayah dan ibunya ( bahkan ada yang memilih putus sekolah karena ayah dan ibu berpisah, ibunya menjadi pekerja seks atau anggota keluarganya memilki perilaku menyimpang. Hilangnya fungsi kasih sayang anak dan psikologis yang stabil  pada anak merasa dilindungi dan disayangi menjadi melemah tak jarang mereka putus sekolah atau melakukan kebohongan dan mulai melakukan perilaku dan tindakan yang dilakukan oleh ayah ibu dirumah ( merokok, berhubungan seks pra nikah, membuly teman, dll)

 

Anak-anak usia sekolah di Tupang pitu banyak yang terlibat kenakalan remaja, addict akan game online dan youtube, merokok dan melakukan kegiatan menyimpang lainnya. Tidak adanya perhatian dan kasih saying yang dirasakan dalam keluarga kemudian menjadikan mereka melampiaskan dan mencari kegiatan-kegiatan yang melanggar norma dan aturan. Banyak anak-anak yang dititipkan juga kepada keluarga lainnya karena keterbatasan orang tua dalam waktu dan pengawasan dikarenakan sibuk bekerja, demonstrasi, dan menikah lagi Relasi dalam keluarga tambang menjadikan anak usia sekolah sebagai alat untuk mencari sumber ekonomi yang layak, mengorbankan fungsi anak didalam keluarga akibat tidak ada harapan bagi keluarga untuk bergantung kepada profesi nelayan dan petani. Anak menjadi tidak percaya diri disekolah karena situasi keluarga. Kerawanan anak usia sekolah di Banyuwangi meningkat hingga tahun 2017
Anak Usia Bekerja/Menikah

 

 

Berperan sebagai pengganti ayah ibu dalam aktifitas kasih saying dan memberi perhatian untuk mengurus kebutuhan adik-adik dengan bekerja dan fungsi keluarga lainnya, mereka kehilangan masa kecil dan karakter dibentuk dari lingkungan sekitar bukan dari keluarga inti. Memilih untuk menikah dini dikarenakan resah dan ingin keluar dari tanggung jawab ekonomi dan sosial yang dilimpahkan secara alamiah dan dipegang oleh anak=anak disusia ini. Hubungan dengan orang tua menjadi renggang dan merasa mendominasi karena beban keluarga yang ditanggung. Kurang ya perhatian dari orang tua dan keluarga memotivasi mereka memilih menikah cepat agar bisa keluar dari rumah inti.
Extended Family

 

 

 

   
Nenek-Kakek

 

Berfungsi dan berperan untuk memberi makan dari hasil keringat orangtua menanamkan nilai dan kepekaan sosial terhadap generasi tua, namun karena kemampuan fisik dan pengetahuan terbatas maka mengurangi kualitas pendidikan karakter pada anak. Mengurangi aktifitas diluar rumah, mengorbankan aktifitas sosial untuk mengurus cucu yang dititipkan. Membuat kelompok sosial didaerah sekitar rumah dengan memanfaatkan waktu sambal mengurus rumah dan dipindahkan dari rumahnya sendiri ke rumah anaknya. Mengekang anak dan tidak memahami keinginan anak dan kebutuhan dasar anak seperti gizi ala kadarnya. Menuntut orang tua anak untuk mengirimkan uang tepat waktu tanpa tahu manajemen uang untuk kualitas gizi, pendidikan anak kea rah yang lebih baik.
Paman- Bibi

Saudara/kerabat Jauh

Ayah/Ibu pengganti

 

Sebagai tempat zona aman dititipkan anak dari keluarga inti untuk dapat menjalankan fungsi pengawasan dan berperan menjadai ayah ibu pengganti dan melakukan control dan penanaman nilai sesuka hatinya tidak berorientasi pada ekonomi lebih bersifat sebagai keluarga tua di rumah.

 

Mengurangi aktifitas diluar rumah, mengorbankan aktifitas sosial untuk mengurus cucu yang dititipkan. Membuat kelompok sosial didaerah sekitar rumah dengan memanfaatkan waktu sambal mengurus rumah dan dipindahkan dari rumahnya sendiri ke rumah anaknya. Konflik muncul jika ortu anak tidak mengirimkan uang tepat waktu, kekerasan anak secara psikologis dan kerawanan pada anak meningkat akibat pola asuh yang bergeser dari keluarga inti pada keluarga tambahan

Sumber : Data dioleh dari berbagai sumber penelitian dan artikel Ilmiah mengenai problem keluarga di kawasan tambang di Jawa Timur.

            Perubahan pekerjaan yang diakukan oleh masyarakat di kawasan tambang tidak semata mata karena mereka menginginkan keuntungan yang lebih besar karena pada dasaranya tetapi ketika subsistensi pada masyarakat petani masih dipakai bagaimana mereka harus mencukupi kebutuhan keluarga. Menjadi menarik bahwa dengan melihat kerusakan lingkungan yang dakibatkan aktivitas tambang oleh PT BSI kemudian pertangung jawaban secara sosial yang dilakukan oleh PT BSI yang seakan akan tidak lagi melihat pemingiran dan perampasan fungsi keluarga petani disekitar tambang dengan kerusakan lahan pertanian yang terus mengancam masa depan mereka.[21]

Dengan berkurangnya pendapatan dalam mata pencarian yang dimiliki oleh perempuan disekitar tambang menyebabkan bergesernya mata pencarian yang dilakukan oleh petani yang dahulu dengan belum adanya kerusakan lahan pertanian milik mereka sekarang berubah menjadi TKW piliha pekerjaan yang dilakukan oleh petani perempuan. Dengan kondisi alam yang sangat tidak menguntungkan pertanian memaksa para petani beralih pekerjaan di sektor non pertanian yang menyebabkan hasil pertanian di Banyuwangi yang merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Timur mengalami penurunan produksi disini bisa dilihat dengan data yang dikeleluarkan oleh BPS kabupaten Banyuwangi.[22]

Penurunan hasil produksi pertanian di kecamatan Pesangrahan yang merupakan kawasan Tambang di Tumpang pitu menunjukkan bahwa di kawasan tambang lebih dari 1000 ton setiap tahunnya. Penurunan tersebut merupakan hasil dari bentuk adanya aktivitas tambang yang dilakukan oleh PT BSI yang memaksa petani khusunya petani perempuan yang tidak terserap dalam pekerjaan didalam aktivitas memilih untuk bekerja diluar negerimenjadi TKW. Tetapi yang menjadi menarik bahwa PT BSI memiliki pertangungjawaban atas berkurangnya hasil pertanian dengan membuka kesempatan bekerja di sektor pertambangan, bukan melihat potensi ekologi apa yang ada di lingkungan masyarakat. Dilema keluarga petani dalam perubahan pekerjaan yang pekerjaan awal sebagai petani padi beralih menjadi usaha kecil yang dikembangkan oleh CSR PT BSI tidak serta merta mampu diterima secara keseluruhan oleh petani yang dari awal bekerja menjadi petani padi dan hidup sebagai petani untuk pemenuhan subsistensinya. Dengan keruskana lingkungan yang menyebabkan berkurangnya lahan pertanian masyarakat sekitar tambang seharusnya PT BSI yang memiliki tanggung jawab atas kerusakan lingkungan mampu memberikan solusi atas kerusakan bdiang pertanian terutama pertanian padi yang sebagai mata pencarian petani disekitar tambang tumpang pitu. Jika merujuk pada pilihan pekerjaan yang mengakibatkan permasalahan dalam keluarga bahwa pilihan pekerjaan yang dilakukan oleh petani perempuan disekitar tambang untuk memilih menjadi TKW bahwa mereka pertama, pada dasarnya kehilangan mata penacarian karena kerusakan lingkungan yang menyebabakan produksi pertanian mereka semakin menurun dan biaya produksi semakin mahal, kedua, PT BSI tidak mampu memberikan terapi terhadap petani perempuan yang mereka pekerjaan pokok sebagai petani  dan dengan hasil pertanian yang terus menurun. Pemerintah tidak mampu memberikan solusi dengan berkurangnya hasil pertanian dan kerusakan keluarga yang ditimbulkan. Pilihan menjadi TKW yang dilakukan oleh sebagaian besar petani perempuan merupakan bentuk tidak berhasilnya pertangung jawaban sosial PT BSI untuk memberikan solusi atas kerusakan lingkungan dan penurunan hasil pertanian karena aktivitas tambang PT BSI.

 

Kesimpulan

 

Pertama, kerusakan lingkungan yang diakibatkan dengan adanya aktifitas tambang yang dilakukan oleh PT BSI sebagai penanggung jawab penuh akibat kerusakan lingkungan tersebut. Dengan adanya kerusakan lingkungan yang terjadi disekitar tambang mau tidak mau menyebabkan adanya dilemma dan perubahan yang secara masif dihadapi oleh keluarga petani khususnya dan nelayan pada umumnya yang bekerja sebagai petani untuk pemenuhan subsistensi. Dengan adanya kerusakan lingkungan maka menyebabkan penurunan pendapatan yang dihasilkan dari aktifitas pertanian. Dengan berkurangnya pendapatan yang didapatkan oleh keluarga yang bekerja disekitar tambang sehingga untuk mencukupi subsustensi terutama perempuan (ibu rumah tangga) yang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan memilih untuk bekerja menjadi TKW yang lebih menjanjikan untuk pememnuhan subsistensi keluarganya. Dalam bentuk lain dengan adanya tambang tumpang pitu menyababkan secara sosial maupun budaya mengalami perubahan sosial ekonomi, strategi adaptasi dan lemahnya relasi antar keluarga dan dalam masyarakat.

Kedua, dengan adanya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas memaksa keluarga terutama ayah dan ibu disekitar tambang melakukan pilihan pekerjaan yang mamapu untuk memenuhi subsistensi mereka. Tetapi pertanggung jawaban secara sosial PT BSI tidak mampu melihat dilema keluarga petani sekitar tambang yang hanya mampu bertani. Solusi solusi yang diberikan oleh PT BSI tidak melihat secara keseluruhan potensi lokal dan dampak dampak yang diakibatkan adanya aktifitas tambang di tumpang pitu banyuwangi. Pilihan pekerjaan menjadi TKW dirasa paling rasional yang dilakukan oleh mereka karena pekerjaan mereka sebagai petani sudah tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Adri seluruh kesimpulan dan uraian diatas, penulis ingin mengembangkan lebih lanjut persoalan-persoalan keluarga petani di kawasan tambang lainnya yang seiring berjalannya waktu mengalami perubahan bentuk relasi dan strategi adaptasi serta peminggiran pola-pola tradisonal menjadi moderen dalam kerangka ekologi keluarga.

 

 

Daftar Pustaka

 

Adi, AP. 2017. Gerakan Sosial Petani Kedungdendeng : Gerakan Perlawanan Petani Terhadap BKPH Ploso Barat Dusun Kedungdendeng Desa Jipurapah Kabupaten Jombang. Surabaya: Universitas Airlangga

———-.2017. Ekslusi Perempuan dalam Rumah Tangga di Kawasan Tambang Tumpang Pitu, Banyuwangi, Jawa Timur. Jurnal Ilmu dan BUdaya. Universitas Nasional, Jakarta.

 

Badan Pusat Statistik,(2013). Angka Sementara Hasil Sensus Pertanian 2013. Banyuwangi: Badan Pusat Statistik

 

Bumi Suksesindo. 2018. Corporate Social Responsibility https://bumisuksesindo.com/tentang-csr diakses 18 agustus 2018

 

Blood, RO. 1972. The Family. Newyork (US): The Free Press

David M. Klein & James M. White, 1996. Family Theories An Introduction, Sage Publication, Inc., California.

 

Gurr, Ted Robert 1970. Why Men Rebel?.  New jersey:  Priceton University Press

 

Hall, Derek, Philip Hirsch, dan Tania Murray Li, 2011. Power of Exclusion, Land Dilemmas in Southeast Asia, Singapore: National Univer- sity of Singapore.

Hariadi, Abdul M. Abdul Majid. Kerusakan ekologis dan Masalah Keluarga di Kawasan Pertambangan. Dapat diakses pada https://www.kompasiana.com/abdulmajid6257 pada tanggal 10 Mei 2018.

 

Ihromi,T.O. 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

Merchant Carolyn,  2005. Radical Ecology: The Search for Liveable World. New York: Routledge

 

Ningtyas, Ika. 2017. Perempuan Melawan Tambang: Catatan Atas Aksi Perempuan Dilereng Gunung Tumpang Pitu, Walhi Jawa Timur.

 

Shiva Vandana dan Mies Maria. 1993. Ecofeminism. Yogyakarta: Ire Press.

 

Sunarto, Marfai. 2012. Tsunami Hazard Community Preparadness Case Study Sumberagung Village Banyuwangi East Java. Tesis.Fakultas geografi,  UGM Yogyak

[1] Ihromi,T.O. 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

[2] Sunarto, Marfai. 2012. Tsunami Hazard Community Preparadness Case Study Sumberagung Village Banyuwangi East Java. Tesis.Fakultas geografi,  UGM Yogyakarta.

 

[3] David M. Klein & James M. White, 1996. Family Theories An Introduction, Sage Publication, Inc., California.

[4] Bumi Suksesindo. 2018. Corporate Social Responsibility https://bumisuksesindo.com/tentang-csr diakses 18

Agustus 2018

[5] Sunarto, Marfai. 2012. Tsunami Hazard Community Preparadness Case Study Sumberagung Village Banyuwangi East Java. Tesis.Fakultas geografi,  UGM Yogyakarta.

[6] Ningtyas, Ika. 2017. Perempuan Melawan Tambang: Catatan Atas Aksi Perempuan Dilereng Gunung Tumpang Pitu, Walhi Jawa Timur.

 

[7] Blood, RO. 1972. The Family. Newyork (US): The Free Press

[8] Adi, AP.2017. Ekslusi Perempuan dalam Rumah Tangga di Kawasan Tambang Tumpang Pitu, Banyuwangi,

Jawa Timur. Jurnal Ilmu dan BUdaya. Universitas Nasional, Jakarta.

[9] Ningtyas, Ika. 2017. Perempuan Melawan Tambang: Catatan Atas Aksi Perempuan Dilereng Gunung Tumpang Pitu, Walhi Jawa Timur.

[10] Hall, Derek, Philip Hirsch, dan Tania Murray Li, 2011. Power of Exclusion, Land Dilemmas in Southeast Asia,

Singapore: National University of Singapore.

[11] Gurr, Ted Robert 1970. Why Men Rebel?.  New jersey:  Priceton University Press.

[12] Ningtyas, Ika. 2017. Perempuan Melawan Tambang: Catatan Atas Aksi Perempuan Dilereng Gunung Tumpang Pitu, Walhi Jawa Timur.

[13] David M. Klein & James M. White, 1996. Family Theories An Introduction, Sage Publication, Inc., California.

[14] Blood, RO. 1972. The Family. Newyork (US): The Free Press.

[15] Hariadi, Abdul M. Abdul Majid. Kerusakan ekologis dan Masalah Keluarga di Kawasan Pertambangan. Dapat

diakses pada https://www.kompasiana.com/abdulmajid6257 pada tanggal 10 Mei 2018.

[16] David M. Klein & James M. White, 1996. Family Theories An Introduction, Sage Publication, Inc., California.

[17] Gurr, Ted Robert 1970. Why Men Rebel?.  New jersey:  Priceton University Press.

 

[18] Adi, AP. 2017. Gerakan Sosial Petani Kedungdendeng : Gerakan Perlawanan Petani Terhadap BKPH Ploso

Barat Dusun Kedungdendeng Desa Jipurapah Kabupaten Jombang. Surabaya: Universitas Airlangga.

[19] Ningtyas, Ika. 2017. Perempuan Melawan Tambang: Catatan Atas Aksi Perempuan Dilereng Gunung Tumpang Pitu, Walhi Jawa Timur.

[20] Blood, RO. 1972. The Family. Newyork (US): The Free Press.

 

[21] Adi, AP. 2017. Ekslusi Perempuan dalam Rumah Tangga di Kawasan Tambang Tumpang Pitu, Banyuwangi,

Jawa Timur. Jurnal Ilmu dan BUdaya. Universitas Nasional, Jakarta.

[22] Badan Pusat Statistik,(2013). Angka Sementara Hasil Sensus Pertanian 2013. Banyuwangi: Badan Pusat

Statistik

Recent Comments