Ditulis dari pokok-pokok pikiran Karya Vandana Shiva
Buku referensi Ekofeminisme I dan II ( Perspektif Gerakan Perempuan dan Lingkungan & Narasi Iman, Mitos, Air dan Tanah)
Semula saya melakukan kerja-kerja analisis pada tugas-tugas perkuliahan doktoral mengenai environmental damage atau kerusakan lingkungan tanpa menelaah lebih lanjut apa peran ecofeminism didalam proses sosial dan bahkan sejarah pembangunan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian negara. Ketertarikan saya muncul ketika membahas bersama rekan-rekan kuliah mengenai pembangunan yang merupakan simbol dari sebuah kemakmuran yang dikampayekan oleh negara negara maju. Kemajuan pembangunan selaras dengan kemajuan teknologi sebagai intrumen dari sebuah kemajuan pemabngaunan. Instrumen pambangunan yang tidak berpihak kepada alam yang kemudian bagi yang beralian ecofeminism sebagai patriarki. Kerangka berfikir ecofeminism meruapakan dealektika dari dua prinsip feministas dan maskulinitas. Feministas dan maskulinitas meruapakan sebuah ideology yang berbeda dan kontradiktif. Feminitas meruapakan idelogi yang bercirikan kedamaian, kerselarasan, keselamtan, kasih dan kebersamaan. Sementara maskulinitas yang bercirikan persaingan, eksploitatif, dominasi dan penindasan. Sebagai prinsip feminitas tidak selalu dimiliki oleh perempuan dan maskulinitas tdak selalu juga terlekat oleh laki laki. jika melihat banyak pemikir pemikir ecofeminism bukan lahir dari ilmu lingkungan tetapi kesadaran mengenai krisis lingkungan yang diakibatkan oleh ilmu yang mereka pelajari seperti salah satunya tokoh ecofeminism vandana shiva.
Vandana shiva merupakan seorang fisikawan dan aktivis lingkungan yang lahir pada 1952 di lembah Dehradun, india. Shiva lahir dari seorang ayah konservator huran dan ibu seorang petani yang cinta kepada alam yang berpedangan terhadap kedaulatan pangan. Vandana shiva meneyelaesaikan gelar PHd dalam filsafat ilmu pada tahun 1978 di universitas of webtern Ontario. Kemudian shiva melanjutkan penelitian intersipliner dalam ilmu penegtahuan, teknologi dan kebijakan lingkungan. Vandana shiva aktiv melakukan kegiatan kegiatan mengampayekan kerusakan lingkungan dan melakukan advokasi terhadapa kerusakan lingkungan yang berdampak besar kepada perempuan yang dilakukan oleh indian institute of management di Bangalore. Shiva juga kerap mengkritik neoliberalisme yang menurutnya meruapakan cara berpikir yang maskulinitas sekaligus patriarki. Pengetahuan modern yang maskulin telah melahirkan dualism dan reduksionisme. Prisnsip dualism menempatkan obyek dan subyek manusia alam sememsta akal – rasa dan laki laki, .perempuan secara diametral. Ilmu pengetahuan meniscayakan dualism tersebut dnegan mewajibkan keterpisahaan anatra subyek alam semesta. Karena keterpisahaan itulah tercipta jarak anaatra manusai dana lam. Alam semesta akhirnya hanya dijadikan sebagia objek yang bahkan bisa diberlakukan semena mena.
Menurut vandan shiva ecofeminism merupakan keseluruhan cara pandang dunia yang lebih dari sekedar mengabungkan penyelamatkan lingkungan dan perjuangan hak hak perempuan, melainkan meliputi seluruh persoalan yang dihadapi manusia dari kemiskinan, kelapara,penolakan privatisasi air, penghapusan utang, perdaimaian dunia, anti rekayasa genetika dan plasma nutfa dan puncakny adalah penolakan terhadap pasar bebas. Pemikiran shiva tersebut memebrikan perpektif alternative dalam pemikiran eko feminism yang menghasilkan wacana alternative bagi pemikiran feminisme dan ekologis secara bersamaan. Bagi shiva kematian prinsip feminine bukan hanya menjadi lonceng bagi hak hak perempuan namun padk kaum kaum miskin, anak – anak, rakyat ke ketiga dana lam semesta. Vandana shiva meruapakan seorang fisikawan tetapi juga suka membaca secara utuh tradisi purba dan kuno dari bebrapa teori kebduayaan di india dan asia yang sangat menghormati alam semesta, pemikiran pemikran yang dihasilkan oleh vandana shiwa tidak terlepas dengan teks teks kebudayan sampai pada sebuah kunci dengan kata ‘’spritualitas’’. Spritualitas tersebut lenyap dalam semua kosa kata feminisme barat. Hal tersebut menurut vandana shiva merupakan hal yang wajar karena feminisme barat lahir dari lingkungan akademik yang merendahkan dimensi rasa. Spiritualitas yag dijelaskn oleh shiva bahwa spiritualitas yang ada dalam ecofeminis bukan spiritualitas alam gaib para ahli nujum yang mau adanya perubahan tanpa keluar keringat. Spiritualitas yang dimaksud oleh shiva disini bahwa setiap yang ada dialam semesta saling berhubungan antara dimensi.
Kecintaan vandana shiva terhadap lingkungan dimuali sejak kanak kanak, karena ayah dari vandan shiva meruapakan seorang penajga hutan dan vandana shiva dibesarkan dihutan pegunugan. Vandana shiva juga ikut dalam gerakan chipko pada tahun 1970 an ketika kaum perempua memelukpohon untuk mencegah penebanagn hutan. Pada tahun 1981 menetri lingkungan mengundang vandan shiva menyadi bahwa hanya dengan malkukan sendiri tidak akan merubah apapun, peruabhan butuh keterlibatan masyrakat di lingkungan, dengan mendirikan lembaga penelitian sendiri untuk ilmu pengetahuan, teknologi dan ekologi pada tahun 1981-1982 untuk menghubungkan masyarakt dan melatih mereka menjadi para ahli membuat vandan shiva tetap idealis dan tidak mampu untuk di intervensi oleh kepentingan korporasi melalui kepanjangan tangan mereka yaitu pemerintah. Vandan shiva mencotohkan bagaimana gerakan chipko diamana kaum perempuan yang militant melindungi hutan yang menjadi tempat tinggal mereka., sebagai sumber air, sumber pakan ternak, bahan bakar dan pupuk.
Pada tahun 1993 vandana shiva mendapatkan peghargaan ha katas kehidupan dalam penenelitiannya dalam sebuah novel yang mengkritisi ilmu geologi yang menhasilakn sebuah proposisi bahwa geologi tidak bisa memberitahu kepada kita sedang mengahncurkan sumber air, anmun ilmu geo- hidrologi bisa memberikan seperangkat pengetahuan utuk mengetauinya. Ketika di Karnataka negeri bagian dari india mengalami kekeringan parah pada tahun 1984 shiva menyadari bahwa adanya kesalahan dalam pengelolaan pertanianyang keliru. Shiva mengakitkan dengan gerakan Punjab denagan adanaya sebuah revolusi hijau yang merusak lingkungan. Kampaye revolusi hijau yang katanya akan memebrikan masyrakat lebih banyak makanan sesungguhnya telah merusak lingkungan dan berakibat pada kemiskinan yang lebih luas. Kaitan anatra gerakan di Punjab dengan revolusi hijau yang merusak lingkungan. Kampaye revolusi hijau ditegaskan oleh gerakan Khalistan yang berawal dari rasa frustasi karena tidak mampu memutuskan harga ketika air dibendungan Bhakra didirirkan. Situasi ekonomi di Punjab jatuh karena pencabutan subsidi dan keanikan harga dan para petani mengalami krisis. Vandana shiva juga melakukan uji coba tananamn organic dan benih organic yang beberapa kali menmui kegagalan yang dialkuakn oleh lembaganya Navdanya mereka mencurigai bahwa dikarenakan adanya racun yang diciptakan oleh eucalyptus monokultur. Vandana shiva mempelajri pertanian organic sebagai cara untuk mempertahan pola pertanian yang ramah lingkungan. Pada akhirny setiap tahun terjadi peningkatan 10% bio diversity dan hamaramah. Selain itu juga petani hanya sedikti membutuhkan air untuk mengairi pertanian.
Tentang ekologi bagi vandana shiva bahwa seseorang tidakakan bisa menajdi ekologis tanpa menjadi spiritual terlebih dahulu, karena bisa menjadi eko tecnokrat, tapi tidak akan pernah bisa benar benar merasakan sakitnya kekersan terhadap alam dan kenikmatan yang ahdir karena berhasil menyelamatkannya. Spiritualitas bagi vandana shiva meruakan seagala sesuatu tentang menghubungkan dan membentuk lingkaran simpati dan iba atasnya untuk bumi. Melawan korporasi korporasi besar bagi shiva meruapakan hal yang baik karena utuk menyelamtkan bumi dan lingkungan, karena manusai untuk kelangsungan hidupnya membutuhkan air, tanah sebagai sumber kehidupan. Kini keluarga shiva turut mendukungnya seperti saudaranya laki lakinya yang keluar dari pekerjaannya di air force untuk tinggal bersama shiva, dan ketiga saudara perempuannya lainnya menjalankan lembaganya Navdanya.
Haruskah wanita melihat hubungan antara penindasan patriarki dan penghancuran Alam atas nama keuntungan dan kemajuan? Bagaimana mereka bisa melawan kekerasan yang melekat dalam proses ini? Haruskah mereka melihat hubungan antara gerakan perempuan dan gerakan sosial lainnya?
Para penulis menawarkan analisis masalah seperti itu dari perspektif Utara-Selatan yang unik. Mereka mengkritik teori ekonomi yang berlaku, konsep konvensional emansipasi wanita, mitos pembangunan ‘mengejar ketinggalan’, dasar filosofis sains dan teknologi modern, dan penghilangan etika ketika membahas begitu banyak pertanyaan termasuk kemajuan dalam teknologi reproduksi.
Dalam membangun epistemologi dan metodologi ekofeminis mereka sendiri, mereka melihat gerakan-gerakan yang mengadvokasi pembebasan konsumen, produksi subsisten dan keberlanjutan, dan memperdebatkan penerimaan batas dan timbal balik serta komodifikasi kebutuhan yang tiada akhir. Sebuah buku yang relevan hari ini seperti ketika pertama kali diterbitkan.
*Vandana Shiva adalah aktivis lingkungan India dan penulis anti-globalisasi. Dia telah menerima penghargaan di seluruh dunia untuk pekerjaannya.
*Maria Mies adalah Profesor Sosiologi di Cologne, Jerman, dan penulis beberapa buku feminis.
